This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Bersama Dr. KH. Moh. Hamdan Rasyid, MA, Kepala Bidang Takmir Mesjid Raya Jakarta Islamic Centre Jakarta, "Dakwah itu kewajiban kita, lakukan yang terbaik untuk umat ! semoga Allah selalu merahmatimu...

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 30 Juni 2016

CIRI CIRI ORANG MUNAFIK

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar kata "munafik" diucapkan orang. Dan bila itu terjadi, biasanya perhatian kita langsung akan terpusat pada sosok yang disebut-sebut munafik tadi. Bahkan tidak jarang kita sendiripun tergoda untuk ikut menambahkan komentar (gibah) mengenai sosok sial yang disebut munafik ini. Lalu, sejauh mana sebetulnya pengetahuan kita tentang Munafik? Berikut adalah ciri-ciri orang munafik menurut Islam.

1. Dusta
Hadith Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad Jayid: "Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Yaitu seseorang yang berdusta agar orang-orang tertawa." Di dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), Rasulullah SAW bersabda: "Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta."

2. Khianat
Sabda Rasulullah SAW: "Dan apabila berjanji, dia berkhianat." Barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, atau kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada seseorang dengan mudah kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar'i maka telah melekat pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.

3. Fujur Dalam PertikaianSabda Rasulullah SAW: "Dan apabila bertengkar (bertikai), dia melampau batas."

4. Ingkar JanjiSabda Rasulullah SAW: "Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat." (HR. Bukhari Muslim)
5. Malas Beribadah
Firman Allah SWT: "Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas." (An-Nisa': 142) . Jika orang munafik pergi ke masjid atau surau, dia menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu rantai. Oleh kerana itu, ketika sampai di dalam masjid atau surau dia memilih duduk di shaf yang paling akhir. Dia tidak mengetahui apa yang dibaca imam dalam sholat, apalagi untuk menyimak dan menghayatinya.
6. Riya
Di hadapan manusia dia sholat dengan khusyuk tetapi ketika seorang diri, dia mempercepat sholatnya. apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

7. Sedikit Berzikir
Firman Allah SWT: "Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah SWT kecuali sedikit sekali." (An-Nisa': 142) .

8. Mempercepat Sholat

Mereka (orang-orang munafik) adalah orang yang mempercepatkan sholat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun. Tidak ada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah SWT di dalamnya. Fikiran dan hatinya tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah SWT dalam sholatnya. Hadith Nabi SAW: "Itulah sholat orang munafik, ... lalu mempercepat empat rakaat (sholatnya)"

9. Mencela Orang-Orang Yang Taat Dan Soleh

Mereka memperolok orang-orang yang taat dengan ungkapan yang mengandung cemohan dan celaan. Oleh kerananya, dalam setiap majlis pertemuan sering kali kita temui orang munafik yang hanya memperbincangkan sepak terjang orang-orang soleh dan orang-orang yang konsisten terhadap Al-Quran dan As-Sunnah. Baginya seakan-akan tidak ada yang lebih penting dan menarik selain memperolok-olok orang-orang yang taat kepada Allah SWT
10. Mengolok-Olok Al-Quran, As-Sunnah, Dan Rasulullah SAW
Termasuk dalam kategori Istihzaa' (berolok-olok) adalah memperolok-olok hal-hal yang disunnahkan Rasulullah SAW dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu, jatuh Kafir. Firman Allah SWT: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. " (At-Taubah: 65-66)
11. Bersumpah Palsu
Firman Allah SWT: "Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai." (Al-Munafiqun: 2 & Al-Mujadilah: 16). Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain. Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya: "Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku."
12. Enggan Berinfak
Orang-orang munafik memang selalu menghindari hal-hal yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana riya' dan sum'ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.

13. Tidak Menghiraukan Nasib Sesama Kaum Muslimin
Mereka selalu menciptakan kelemahan-kelemahan dalam barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil, yiaitu sikap meremehkan, menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik percaya bahawa orang-orang kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.
14. Suka Menyebarkan Khabar Dusta
Orang munafik senang memperbesar peristiwa atau kejadian. Jika ada orang yang tergelincir lisannya secara tidak sengaja, maka datanglah si munafik dan memperbesarkannya dalam majelis-majelis pertemuan. "Apa kalian tidak mendengar apa yang telah dikatakan si fulan itu?" Lalu, dia pun menirukan kesalahan tersebut. Padahal, dia sendiri mengetahui bahawa orang itu mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, akan tetapi si munafik itu tidak bersedia mengungkapkannya kepada masyarakat.
15. Mengingkari Takdir
Orang munafik selalu membantah dan tidak ridha dpada takdir Allah SWT. Oleh kerananya, apabila ditimpa musibah, dia mengatakan: "Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, niscaya akan menjadi begini." Dia pun selalu mengeluh kepada sesama manusia. Sungguh, dia telah mengkufuri dan mengingkari Qadha dan Takdir.
16. Mencaci Maki Kehormatan Orang-Orang Soleh
Apabila orang munafik membelakangi orang-orang soleh, dia akan mencaci maki, menjelek-jelekkan, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka di majlis-majlis pertemuan. Firman Allah SWT: "Mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan." (Al-Ahzab: 19)

17. Sering Meninggalkan Sholat Berjamaah
Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu luang, dan tidak memiliki uzur say'i, namun tidak mahu mendatangi masjid/surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik.
18. Membuat Kerusakan Di Muka Bumi Dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
Firman Allah SWT: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-12).
19. Tidak Sesuai Antara Zahir Dengan Bathin
Secara Zahir mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang menyebabkan Mereka masuk ke dalam Neraka. Penampilan zahirnya bagus dan mempesona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan. Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya ia main-main.
20. Takut Terhadap Kejadian Apa Saja
Orang-orang munafik selalu diliputi rasa takut. Jiwanya selalu tidak tenang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan-persoalan hidup apapun. Dia selalu berharap: "Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan kami berubah." Padahal, keadaan tidaklah selalu apalagi menjadi lebih baik.
21. Beruzur Dengan Dalih Dusta
Firman Allah SWT: "Di antara mereka ada orang yang berkata: 'Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.' Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Neraka Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." (At-Taubah: 49)

22. Menyuruh Kemungkaran Dan Mencegah Kemakrufan
Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang-orang beriman. Mereka menggembar-gemborkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konser, menyebarkan majalah-majalah porno (semi-porno) dan narkoba.

23. Bakhil
Orang-orang munafik sangat bakhil dalam masalah-masalah kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mau bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.
24. Lupa Kepada Allah SWT
Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka senantiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya, lagu-lagu, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat (berdzikir) Allah SWT, kecuali sebagai tipu daya kepada sewsama manusia semata.
25. Mendustakan Janji Allah SWT Dan Rasul-Nya
Firman Allah SWT: "Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya." (Al-Ahzab: 12).

26. Lebih Memperhatikan Zahir, Mengabaikan Bathin
Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan yang batin, tidak menegakkan sholat, tidak merasa diawasi Allah SWT, dan tidak mengenal zikir. Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi batin mereka kosong, rusak dan lain sebaginya.
27. Sombong Dalam Berbicara
Orang-orang munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak omong dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan ungkapan menakjubkan yang meyakinkan agar tampak seperti orang hebat, mulia, berwawasan luas, mengerti, berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apapun. Sama sekali tidak memiliki ilmu, bahkan bodoh.

28. Tidak Memahami Ad Din
Di antara "keistimewaan" orang-orang munafik adalah: mereka sama sekali tidak memahami masalah-masalah agama. Dia tahu bagaimana mengenderai mobil dan mengerti perihal mesinnya. Dia juga mengetahui hal-hal remeh dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah memberi manfaat kepadanya meski juga tidak mendatangkan mudharat baginya. Akan tetapi, apabila menghadapi dialog (tanya-jawab tentang persoalan-persoalan Ad Din (Islam)), dia sama sekali tidak dapat menjawab.
29. Bersembunyi Dari Manusia Dan Menentang Allah Dengan Perbuatan DosaOrang munafik menganggap ringan perkara-perkara yang melawan hukum Allah SWT, menentang-Nya dengan melakukan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah manusia dia menunjukkan kebalikannya; berpura-pura taat.

Firman Allah SWT: "
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. " (An-Nisa': 108)

30. Senang Melihat Orang Lain Susah, Susah Bila Melihat Orang lain Senang
Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: "Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu. Semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau." Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan terhibur karena musibah itu.


Baca juga: 55 PERINGATAN ALLAH TENTANG MUNAFIK

KEHIDUPAN YANG BAIK

Setiap orang yang hidup, baik laki-laki maupun perempuan menginginkan kehidupan yang baik. Tiada seorang pun yang menginginkan sebaliknya. Orang yang mencari ilmu sejak kecil sampai dewasa bahkan sampai tua; orang yang bekerja siang malam membanting tulang dan bermandikan keringat; Pegawai negeri/kerajaan, karyawan swasta, petani, enterpreneur dn sebagainya tidak lepas dari harapan untuk mendapatkan kehidupan yang baik.

Begitu pun negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia yang tengah giat melaksanakan pembangunan disegala bidang, pada hakikatnya tiada lain guna mendapatkan kehidupan yang baik bagi seluruh rakyatnya.

Masing-masing orang, mempunyai pandangan tersendiri terhadap hakekat kehidupan yang baik itu. Ada yang memandang bahwa kehidupan yang baik itu terletak pada harta kekayaan; ada pula yang memandang bahwa kehidupan yang baik itu terletak pada pangkat, kedudukan/status sosial, pada ilmu, keturunan dan sebagianya, sesuai dengan kecenderungan masing-masing.

Pada lazimnya, kehidupan yang baik itu ialah kehidupan yang sejahtera, aman damai, sehat jasmani, sehat rohani dan senantiasa terhindar dari bencana atau malapetaka. Demikianlah idaman kebanyakan orang.

Adapun bagi orang yang beriman, idaman itu tidak hanya sampai disitu saja, melainkan diteruskan pula dengan kebaikan di akhirat yang ingin dicapainya.

Ulama terkenal al-Asfahani, dalam kitabnya Al-Mufradatu fi Gharibil Quran, dan al-Qurtubi dalam tafsirnya Al-Jami'u li Ahkamil Quran, menjelaskan, nahwa kehidupan yang baik itu mempunyai lima unsur, yaitu:

1. Dilimpahi rizki yang halal disertai sifat Qana'ah.
2. Dihiasi ilmu pengetahuan.
3. Dihiasi budi dan amal baik.
4. Diberi hidayah iman dan taufiq.
5. Dikaruniai investasi (tabungan) untuk akhirat.

Rizki yang halal, kiranya tidak dapat disangkal, bahwa ia merupakan unsur yang utama dalam kehidupan yang baik. Kekayaan yang melimpah tetapi cara memperolehnya tidak halal, walaupun pada dhahirnya seperti senang, namun di dalam jiwanya selalu resah-gelisah, risau dan penuh kekhawatiran. Kadangkala menghilangkan selera, walaupun dihadapannya terhidang makanan yang serba lezat.

Berbeda halnya dengan orang yang hidupnya dari rizki yang halal, meskipun tidak seberapa banyak namun menimbulkan ketenangan dan merasa aman. Apalagi jika hal itu di ikuti pula dengan sifat Qana'ah (menerima dengan rela atas rizki yang ada). Sebab itu, sifat Qana'ah perlu dimiliki oleh setiap orang.

Orang yang tidak memiliki sifat Qana'ah, betapapun banyak kurnia yang diberikan Allah kepadanya, niscaya akan tetap merasa kurang dan selalu tidak puas, bahkan menjadi ingkar dan tidak mau bersyukur.

Orang yang selalu merasa kurang puas atas rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya, dilukiskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya sebagai berikut: "Seperti orang yang telah memiliki dua bukit emas, tetapi ia meminta tiga bukit emas, dan bila telah memiliki tiga bukit emas, ia menginginkan empat bukit emas. Dan mereka tidak akan puas kecuali dengan tanah (dikubur, mati)".

Sebab itu berbahagialah orang-orang yang beriman dan diberi rizki yang halal serta berhati qana'ah, sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk (untuk beragama) Islam. Kehidupannya cukup dan menerima".

Unsur yang kedua adalah hiasan ilmu pengetahuan. Ilmu adalah sifat dan tanda kemulian manusia atas makhluk lainnya. Kemuliaan Nabi Adam a.s atas Malaikat dan Iblis adalah karena ilmunya; dan karena ilmu, ia berhak dita'ati dan di hormati. Orang yang berhasil hidupnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan sebagainya adalah karena dibekali ilmu pengetahuan yang cemerlang. Hidup tanpa ilmu pengetahuan akan gelap sedangkan amal tanpa ilmu tidaklah merupakan amal yang sempurna. Tidak saja urusan duniawi, namun urusan ukhrawi pun harus dilakukan dengan ilmu. Sabda Rasulullah saw: "Barangsiapa yang menghendaki dunia (kekayaan), hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki akhirat, hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka hendaklah dengan ilmu". (al-Hadist).

Mengingat betapa pentingnya kedudukan ilmu pengetahuan bagi manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, maka gama mewajibkan kepada umatnya agar senantiasa menuntut ilmu, sebagaimana Sabda Nabi saw: "Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkannya, atau orang yang mencintainya. Janganlah engkau menjadi yang kelimanya" (Al-Hadist).

Unsur yang ketiga adalah budi dan amal yang baik, seperti rendah hati, pemurah, pemaaf, suka menolong dan sifat-sifat terpuji lainnya. Apabila budi baik itu dimiliki seseorang, niscaya akan bertambah mulia orang itu. Demikian pula sebaliknya, kekayaan yang melimpah, kedudukan yang tinggi, ilmu yang luas dan sebagainya, apabila tidak disertai budi pekerti yang baik, niscaya akan menjatuhkan wibawanya. Paling tidak, mereka hanya akan menghormat ketika berhadapan saja, sedangkan dibelakang mereka menyerapah.

Sabda Nabi saw: "Shadaqah itu tidak akan mengurangi harta kekayaan sedikitpun. Allah takkan menambah bagi hambaNya yang pemaaf kecuali menambah kemuliannya.Dan seseorang yang tawadlu (rendah hati) karena Allah semata, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya". (H.R Bukhari)
Berbahagialah orang-orang yang beriman serta memiliki sifat-sifat utama. Firman Allah: "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, lelaki maupun perempuan, sedang ia beriman kepada Allah, niscaya akan diberi kehidupan yang baik ... (Q.S. 16 n-Nahl:97)

Unsur yang keempat adalah Hidayah Iman dan Taufiq. Seorang pelajar atau mahasiswa yang bertahun-thun menekuni pelajarannya, ingin menjadi sarjana dan mempunyai kedudukan, kemudian ia berhasil mencapainya, ini namanya mendapat taufiq dari Allah. Seorang pegawai atau pekerja, yang ingin memiliki rumah, kemudian ia menabung sedikit demi sedikit dan akhirnya berhasil membangun rumah, maka ini namanya mendapat taufiq, demikianlah seterusnya.

Dengan demikian, taufiq sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Banyak orang yang mempunyai keinginan dan cita-cita, tapi keinginan dan cita-citanya selalu kandas karena tidak sejalan dengan kehendak Dzat yang Maha kuasa. Andai pun cita-citanya tercapai, itu tidak dinamakan taufiq, karena tidak mendapatkan restu dari Allah SWT.

Demikianlah, Allah swt. memberi bimbingan, agar orang hidup selalu mengharapkan taufiq dari Allah swt: "Dan tiadalah taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawwakal dan hanya kepada-Nya pula aku kembali." (QS. 11 Hud:88)

Hidup tanpa taufiq dan iman, tidak akan mendatangkan ketenangan. Kehidupan tanpa dasar iman, akan selalu ragu-ragu dan selalu cemas atas sesuatu yang terjadi. Orang yang kehilangan iman, akan mudah putus asa dan sempit jalan hidupnya.

Berbahagialah orang-orang yang beriman dan senantiasa teguh memegang aqidahnya. Firman Allah swt: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rab-kami adalah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):"Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian." (QS.41 Fushshilat:30).

Di antara tanda-tanda yang membedakan antara orang-orang yang beriman (mukminin/mukminat) dengan lainnya, ialah mempercayai adanya hidup sesudah mati. Dan yaqin bahwa kehidupan akhirat itulah kehidupan yang kekal, sebagaimana firman Allah: "....serta mereka yaqin akan adanya kehidupan akhirat." (QS.al-Baqarah : 4)

Agama Islam memberikan petunjuk bahwa kehidupan di dunia haruslah dijadikan ladang untuk menanam sebanyak mungkin amal sholeh agar dapat dijadikan bekal untuk menjangkau kehidupan akhirat yang baik, atau mencapai sorga Allah dan terhindar dari segala adzab-Nya.

Berbahagialah orang-orang yang telah mendapatkan kehidupan yang baik di dunia, serta mempunyai INVESTASI (tabungan) untuk akhirat yang kekal. Dan alangkah akan menyesalnya orang-orang yang mendapatkan kebaikan dunia, namun ia tidak mempunyai tabungan untuk akhiratnya. Sebagaimana dilukiskan Allah swt dalam firman-Nya: "Sebagian diantara manusia, ada yang berdo'a: "Rabbana berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya kebaikan di akhirat." (Q.S.2 Al-Baqarah: 200)

Sebab itu wahai saudaraku, sepanjang kita masih kuat, masih sehat wal'afiat dan mumpung kita masih diberi waktu, marilah kita berlomba-lomba beramal sholeh untuk mengisi tabungan akhirat, marilah kita menanam kebaikan dengan penuh keikhlasan semata-mata karena mengharapkan ridhla Allah. Ketahuilah bahwa bekal akhirat itu tidak hanya: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh saja, tetapi lebih luas dari itu!

Marilah kita renungkan peringatan Allah dalam al-Qur'an: "Apakah kalian akan mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan atau ujian sebagaimana yang telah menimpa umat sebelum kalian. Mereka telah ditimpa bencana dan penderitaan yang amat besar, dan mereka digoncangkan imannya dengan hebat, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS.2 Al-Baqarah: 214).

Kemudian firman-Nya: "Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata di antara kalian orang-orang yang sabar." (QS.3 Ali Imran:142).

Apabila kita renungkan ayat-ayat diatas, kiranya segala kebaikan yang telah kita perbuat, masih belum seberapa, sebab masih banyak lagi hal-hal yang harus diperbuat. Manusia sebagai makhluk sosial, dituntut untuk memandang kehidupan ini dari segala segi. Sudahkah kita hidup bertetangga dengan memenuhi segala hak mereka? Sebagai makhluq Allah, sudahkah kita mematuhi perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya dengan kaffah dan istiqomah? Sebagai khalifah-Nya dimuka bumi, sudahkah kita memelihara, menjaga dan memanfaatkan anugrah-Nya berupa hutan, sumberdaya alam sebagaimana mestinya? Sebagai warga negara, sudahkah kita memenuhi panggilan tanah air? Dan masih banyak hal-hal lainnya!

Demikianlah lima unsur bagi kehidupan yang baik menurut pandangan Islam. Mudah-mudahan kita semua diberi petunjuk untuk memperoleh lima unsur tersebut, dan tergolong orang yang bahagia di dunia dan akhirat.

Amin....

Akhirulkalam, marilah kita renungkan bersama firman Allah swt: "Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah daripada perbuatan yang munkar. Dan hanya kepada Allah-lah kembalinya segala urusan." (QS.22 al-Hajj: 41).

Oleh: Hariswan - Blog As Sunnah

LARANGAN SUAP MENYUAP

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، واتَّقُوا اللهََ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Korupsi dalam bentuk menerima hadiah bagi para pejabat telah lama terjadi sejak masa Nabi. Perbuatan ini dilarang keras oleh Rasulullah saw, bahkan dianggap sebagai penyimpangan kedudukan yang sangat bertolak-belakang dengan nilai-nilai agama Islam. Di hari kiamat nanti, orang-orang yang melakukan tindakan ini akan memikul hadiah tersebut di atas pundaknya. Nabi saw sendiri mengetahui hal itu ketika ada seorang pejabat yang ditugasi untuk mengumpulkan harta zakat, menerima beberapa pemberian dari masyarakat saat bertugas.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Humaid al-Sa’idi, salah seorang sahabat Nabi, menuturkan, “Rasulullah saw menugaskan pada seorang pria dari Bani Asad bernama Abdullah al-Latbiah ke suatu tempat untuk mengumpulkan harta zakat. Sepulangnya dari tugas, ia menghadap Nabi saw dan berkata, “Harta yang ini adalah hadiah untuk engkau, sedangkan harta yang itu mereka hadiahkan untuk saya.”
Mendengar laporan tersebut, Rasulullah saw bangkit menuju mimbar untuk memberikan pengarahan.
مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ فِي بَيْتِ أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَنَالُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ ... الحديث (رواه مسلم)
"Apa yang terjadi pada seorang petugas yang telah kusuruh ini, dengan enak ia mengatakan harta ini adalah untuk engkau dan harta yang lainnya adalah hadiah untuk saya. Tidakkah jika ia duduk santai di rumah orang ayahnya atau rumah ibunya,, apakah hadiah itu akan tetap datang padanya atau tidak? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, salah seorang kalian tidak memperoleh sedikit pun dari hadiah (ketika menjadi pejabat) kecuali di hari kiamat nanti ia datang dengan memikulnya, di pundaknya terdapat unta atau sapi betina atau kambing yang mengeluarkan suara khasnya masing-masing...” (HR. Muslim, No. 3413)

Hadirin sidang shalat Jumat yang berbahagia
Pada umumnya, penyakit kronis di atas hanya menimpa pada orang-orang yang tidak menghayati ajaran agamanya. Mereka shalat, zakat, puasa, dan berangkat haji, tetapi hati mereka tetap jauh dari mengingat Allah sehingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, mereka terlena dengan gelimang harta dunia demi mengejar kebahagiaan duniawi dengan mengumpulkan kekayaan di dunia yang fana ini.
Konotasi Hadiah
Hadirin rahimakumullah
Secara etimologi, kata hadiah berasal dari bahasa Arab; hada-yahdi-hadiyyah, yang berarti kumpulan atau himpunan (Al-Jauhari dalam Kamusnya al-Shihah). Sedangkan hadiah secara terminologi adalah sejumlah harta yang diberikan seseorang pada orang lain tanpa ada syarat (perjanjian) di dalamnya. Hadiah juga bisa diartikan sebagai pemberian sejumlah harta tanpa dimulai dengan adanya permintaan, atau tanpa adanya perjanjian untuk memberikan pertolongan.
Memberikan hadiah adalah suatu perbuatan yang dianjurkan oleh Islam. Abu Ya’la meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai!”. Ibnu Asakir juga menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai! Saling berjabat tanganlah, maka rasa benci di antara kalian akan hilang!”. (al-Zarqani:1411 H:IV/333). Selain itu, Imam al-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Saling memberi hadiahlah, karena hadiah itu dapat menghilangkan rasa benci di dalam hati!” (HR. al-Tirmidzi/No.2130)
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa memberi hadiah dianjurkan di dalam Islam. Kendati demikian, para ulama sepakat bahwa perintah tersebut tidak sampai pada hukum wajib, melainkan hanya sunah saja. Dalam kategori ini, menerima hadiah juga dihukumi sunah, sebab di dalamnya terkandung nilai kasih sayang antar sesama manusia (khususnya antara pemberi dan penerima). Hukum ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak memegang posisi jabatan dalam birokrasi atau instansi.
Para pejabat seperti hakim, jaksa, polisi, menteri, atau badan pekerja lainnya, mereka tidak diperkenankan menerima hadiah yang diberikan untuknya, lebih-lebih bagi mereka yang tidak pernah menerima hadiah sebelumnya. Perbedaan hukum ini disebabkan perbedaan posisi mereka bagi orang-orang yang memberi hadiah. Tatkala seseorang memberi hadiah bagi seorang pejabat, maka sesungguhnya terkarang ia menuntut agar si pejabat itu meluluskan keinginannya. Jika hadiah dengan ‘embel-embel’ tersebut diterima si pejabat itu, maka status hadiah itu berubah menjadi salah satu bagian dari kasus penyelewengan kekuasaan atau tindak korupsi.
Hadiah yang Terlarang
Jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Sebuah hadits dari Buraidah bahwa Nabi saw bersabda,
مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ
"Barang siapa yang diangkat oleh kami sebagai pejabat dengan upah kerja (gaji) yang telah ditentukan, maka harta yang diambilnya selain itu adalah harta korupsi.” (HR. Abu Dawud/No.2554).
Perbedaan antara hadiah dan suap bagi seorang pejabat sangat tipis. Karenanya, lebih hati-hati jika hadiah tersebut dijauhi. Memang, Nabi saw pernah menerima hadiah ketika beliau menjadi kepala pemerintahan, tetapi hal itu tidak bisa digeneralisir, sebab beliau di samping menjadi kepala pemerintahan juga sebagai pemimpin agama (Nabi) yang takut sekali dalam menyelewengkan wewenangnya. Selain itu, hal tersebut juga merupakan salah satu kekhususan bagi beliau yang tidak layak bagi umatnya.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikenal gigih menolak hadiah yang dikirimkan kepadanya. Suatu ketika ada seorang pria memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw dulu pernah menerima hadiah, padahal beliau sedang menjabat kepala pemerintahan. Mendengar hal itu, Khalifah Umar dengan tegas menjawab, “Harta tersebut bagi Nabi saw adalah hadiah, sedangkan bagi kita (umatnya) adalah suap. Orang memberikan hadiah kepada beliau karena melihat posisinya sebagai seorang Nabi bukan seorang kepala pemerintahan, sedangkan kita, orang memberikan hadiah karena melihat posisi kita sebagai seorang birokrat.” (Muhammad Ibrahim:1986:186)
Seorang hakim yang diberi ‘bingkisan’, tentu di dalamnya terselip sebuah ‘tujuan’. Pepatah mengatakan, “Ada udang di balik batu”. Jika memang hadiah tersebut tulus diberikan kepadanya, kenapa sebelum menjabat sebagai hakim, ia tidak menerimanya. Oleh karena itu, di balik pemberian tersebut, seorang pemberi bermaksud ingin menyuap si hakim agar mencabut putusan atas kesalahannya, atau mempercepat agar hak-haknya segera diluluskan. Semua itu hukumnya haram.

Kaum muslimin rahimakumullah
Imam al-Ghazali, seorang filusuf yang kemudian terjun ke dunia tasawuf, dalam magnum opusnya Ihyâ Ulûm al-Dîn berkata, “Untuk mengukur ketulusan si pemberi, seorang hakim atau seorang penguasa hendaknya duduk santai di rumah orang tuanya. Dia memberitahukan kepada si pemberi bahwa dirinya telah pensiun atau dipecat dari jabatannya. Jika ada pemberian hadiah yang diterimanya pada saat itu, maka ia berhak menerimanya lagi ketika ia menjabat kembali, tetapi jika hadiah itu tidak diterimanya selama masa ‘cuti’, maka ketika ia menjabat kembali, pemberian itu haram baginya. Dengan demikian, hadiah itu hendaknya ia jauhi sebab mengandung kesyubhatan.” (lihat juga al-Qardhawi dalam kitabnya al-Halâl wa al-Harâm)
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari Sahabat Tsauban ra, secara jelas mengungkapkan bahwa suap menyuap adalah perbuatan yang terlarang dalam Islam:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ (رواه الحاكم)
"Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap, dan orang yang menjadi pelantara keduanya.” (HR. al-Hakim/No.7068)
Tidak hanya hakim atau penguasa, rakyat jelata pun sebenarnya telah terjangkiti penyakit kronis bernama suap menyuap ini. Meskipun modusnya berbeda tetapi motivasinya sama, yaitu mengambil sejumlah harta yang bukan haknya atau menjadi makelar agar urusan si pemberi segera kelar.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Ibnul Atsir dalam kitabnya al-Nihayah menyebutkan bahwa ada sedikit pengecualian yang menjadikan suap menyuap menjadi boleh. Yaitu ketika pemberian harta itu ditujukan untuk mempermudah perkara yang benar dan adil, atau untuk mencegah kemungkaran dan kedzaliman. Sebab konotasi suap menyuap yang diharamkan adalah pemberian dengan tujuan menjadikan perkara yang benar menjadi salah, sedangkan yang salah menjadi benar. Kebolehan ini tidak berlaku bagi hakim, jaksa, dan penguasa. Karena mengayomi masyarakat dari kedzaliman dan memperlakukan semuanya dengan penuh keadilan adalah tugas mereka yang harus dilaksanakan, tidak perlu menunggu hadiah atau pemberian. (al-Mubarakafuri:tth:IV/471).
Dampak Korupsi Pada Tatanan Masyarakat
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Apabila ditelaah, mental dan budaya korupsi di kalangan para pejabat dan masyarakat umum akan berdampak pada rusaknya tatanan moral dan lambatnya target kesejahteraan yang merata di setiap lapisan masyarakat. Keadilan nantinya hanya sebuah isapan jempol semata, tidak ada implementasinya sedikit pun. Sebaliknya, kedzaliman semakin merebak dan kemungkaran merajalela. Orang yang sudah terbukti salah dengan mudah dibebaskan, adapun orang yang benar, dengan berbagai cara akhirnya dijebloskan ke penjara.
Di samping itu, budaya korupsi ini akan membuat hak warga ternoda, yang seharusnya ia diakhirkan, dengan ‘amplop’ bisa didahulukan, begitu pula yang seharusnya didahulukan, karena tidak ‘setor’ maka urusannya menjadi ngeloyor. Lebih-lebih jika budaya ini secara diam-diam dilegalkan, maka setiap pejabat akan berlomba-lomba bekerja jika di depannya terdapat ‘lahan yang basah’. Mereka tidak menyadari bahwa mereka diangkat sebagai abdi masyarakat yang harus menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya demi mewujudkan tatanan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.
قال الله تعالى في القرآن الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2:188).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
- Teks Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
ِعِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.