This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Bersama Dr. KH. Moh. Hamdan Rasyid, MA, Kepala Bidang Takmir Mesjid Raya Jakarta Islamic Centre Jakarta, "Dakwah itu kewajiban kita, lakukan yang terbaik untuk umat ! semoga Allah selalu merahmatimu...

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.


Kamis, 30 Desember 2010

download mp3 qira'at anak duet - asep heriyanto dan heri qusaeri

asep heriyanto dan heri qusaeri adalah dua anak kembar yang ada di kaset bimbingan tilawatil quran ust.muammar za vol.1-3

http://www.ziddu.com/download/13190439/asep_heriyanto_dan_heri_qusaeri_A.rar.html

Kamis, 23 Desember 2010

DEFINISI SUNNAH

Syariat yang telah sempurna ini adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makna umum. Adapun sunnah itu sendiri, terbagi menjadi empat definisi:

PERTAMA
Sesungguhnya, segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran –pen) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia merupakan sebuah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh definisi ini adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku.” (H.R. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])

KEDUA
Sunnah yang bermakna “al-hadits”. Hal tersebut jika digandengkan dengan “Al-Kitab”. Di antara contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Wahai sekalian manusia, sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian kalian tidak akan tersesat selamanya: (yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

“Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua hal bagi kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya setelah berpegang teguh dengan kedua hal tersebut: (yaitu) Kitabullah dan sunnahku.”

Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (I/93).

Di antara bentuk kata “sunnah” yang bermakna “al-hadits” adalah perkataan sebagian ulama dalam menyebutkan beberapa permasalahan, “Dan ini adalah sebuah permasalahan yang berdasarkan dalil Al-Kitab, as-sunnah, dan ijma’ para ulama.”

KETIGA
Sunnah pun dapat didefinisikan sebagai lawan dari bid’ah. Di antara contoh penggunaannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِانَّوَاجِذِ، وَ إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٌ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku –pen), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat!” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud [4607] -–lafal hadits ini adalah milik beliau–, dikeluarkan pula oleh At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44]; At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

Di antara contoh penerapan istilah “sunnah” yang bermakna “lawan dari bid’ah” adalah sebagian ulama hadits zaman dahulu yang menyebut buku-buku karya mereka dalam bidang akidah dengan nama “As-Sunnah”, semisal As-Sunnah karya Muhammad bin Nashir Al-Marwazii, As-Sunnah karya Ibnu Abii ‘Aashim, As-Sunnah karya Al-Laalikaa`i, dan selainnya. Dalam kitab Sunan karya Abu Daud pun terdapat bab berjudul “As-Sunnah” yang memuat banyak hadits tentang akidah.

KEEMPAT
Sunnah pun dapat bermakna “mandub” dan “mustahab”, yaitu segala sesuatu yang diperintahkan dalam bentuk anjuran, bukan dalam bentuk pewajiban. Definisi ini digunakan oleh para ahli fikih. Di antara contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Seandainya bukan karena takut memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk melakukan siwak setiap hendak melaksanakan shalat.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [887] dan Muslim [252])

Sesungguhnya perintah untuk bersiwak berada pada derajat anjuran, dan hal tersebut semata-mata karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan memberatkan umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menetapkannya sebagai sebuah kewajiban.

(terjemahan kutipan dari kitab “Al-Hatstsu ‘Alaa Ittibaa’is Sunnah wat Tahdziiru minal Bida’i wa Bayaanu Khatharihaa”, karya Syeikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbaad Al-Badr)

Dari Ummul Hasan Athirah
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar


PERAWI HADITS

Menjadi seorang perawi hadits, tidaklah mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya, menguasai dan hafal ribuan hadits, menguasai matan dan sa-nad hadits, menguasai ilmu dirayah dan hwa-yah, ilmu rijalul hadits, dan lain sebagainya.

Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhary al-Jufi atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari (194-256 H) dan Abu al-Hasan Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairy an-Naisabury atau popular dengan sebutan Imam Muslim (204-261 H). Keduanya merupakan dua otoritas tertinggi dalam dunia periwayatan hadits sahih.

hadits hadits yang diriwayatkan oleh keduanya memberi syarat yang sangat ketat atas matan (isi) ataupun sanad (silsilah periwayatan) hadits. Integritas orang-orang yang menwayatkan hadits (perawi hadits) juga sangat diperhatikan, seperti tidak pernah berdusta. kuat ingatannya. pernah bertemu dengan perawi sebelumnya, dan lain-lain. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Imam Bukhari pernah menolak integritas seorang perawi hadits, hanya karena orang itu pernah berdusta kepada seekor kuda. Ia memanggil kuda dengan berpura-pura memberi makan, padahal di genggaman tangannya tidak ada makanan.

Demikian pula. Imam Muslim mempunyai otoritas yang sangat tinggi dalam periwayatan hadits. Muslim bin Qasim al-Qurtuby, salah satu dari teman dekat ad-Daruqutny, telah berkata di dalam kitab Tankh-nya saat mengomentari Imam Muslim, "Tidak seorang pun menyusun kitab hadits yang menyamainya. Ini mengacu pada bagusnya ia dalam hal

penyusunannya, pengaturannya, dan kemudahan untuk menemukan hadits yang dicari. Ia menjadikan setiap hadits ada pada satu bab yang sesuai dengannya, menghimpun di dalamnya cara-cara penyusunan yang diinginkan, di samping memilih di dalam penyebutannya dan menyebutkan lafaz-lafaz yang berbeda-beda." Dengan persyaratan yang sangat ketat, terutama atas matan dan sanad, tak heran kalau hadits-hadits yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim {muttafaq alaihi) menempati tingkatan teratas hadits sahih.

Karena itulah, tampaknya pengarang kitab Al-Lulu wa al-Marjan, Muhammad Fuad Abdul Baqi. berusaha mengumpulkan hadits-hadits sahih yang diriwayatkan oleh keduanya, lalu dibukukan dalam kitab ini. Wa Allahu Alam.

Dari kelana-ed-sya

Rabu, 22 Desember 2010

BENARKAH ISLAMOPHOBIA ITU ADA?

Jauh sebelum tragedi 11 September, hubungan antara dunia barat (Amerika dan sekutunya) dan dunia Islam memang sudah tidak dapat dikatakan harmonis. Sejarah mencatat, pertikaian barat dan Islam diawali pada saat Perang Salib abad ke-12 dan terus berlanjut sehingga menyisakan dendam yang sulit dilupakan kedua belah pihak. Ketidaksukaan barat terhadap timur (Islam) bahkan sampai melahirkan sebuah gerakan pemikiran yang dikenal dengan Orientalisme.

Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat ilmiah, yang meneliti dan memperdalam masalah ketimuran khususnya Islam. Tetapi di balik penelitian masalah ketimuran itu mereka berusaha memalingkan masyarakat Timur dari Kebudayaan Timurnya (Islam), berpindah mengikuti keinginan aliran Kebudayaan Barat yang sesat dan menyesatkan. Orientalis, adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat, Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur (bahasa Arab, Parsi, Ibrani, Suryani dan lain-lain), terutama mempelajari bahasa Arab secara mendalam.

Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham- faham yang bathil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah, ajaran dan Da’wah Islam merosot, berkurang pengaruhnya terhadap masyarakat, tak berbekas dalam kehidupan, tidak mampu mengangkat derajat kemanusiaan, tidak berperan lagi untuk melepaskan manusia dari perhambaan pada makhluk, dan tujuan Islam tak kunjung tercapai dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan (Zhulumaat: kufur, syirik, fasik, lemah, bodoh, tertindas, miskin, dijajah, dianiaya, dan dalam keadaan terbelakang dalam segala bidang) menuju An Nur (kebalikan dari Zhulumaat, yaitu bertauhid, iman, kuat,pintar, cerdas, adil, aman, makmur, maju dan lain sebagainya).

Alergi dunia barat terhadap dunia Islam dipertegas oleh Samuel P Huntington melalui bukunya Clash of Civilizations. Tesis Huntington tentang benturan peradaban antara peradaban Kapitalisme barat, Konfusianis China dan Islam seolah memang benar terbukti jika kita melihat kondisi hari ini. Kontradiksi-kontradiksi antar peradaban ini kemudian akan menciptakan konflik yang berakar dari benturan peradaban besar dalam hal ini adalah hegemoni barat, universalisme Islam dan arogansi China.

Pada suatu saat, dialektika-dialektika yang terjadi diantara peradaban akan menciptakan suatu tatanan dunia yang benar-benar baru. Tesis Huntington ini mencerminkan adanya ketidaksukaan pada budaya timur khususnya Islam (Islamophobia). Tampaknya Konfusianis China dapat bangkit mensejajarkan diri dengan Kapitalisme barat sehingga keduanya bertarung sebebas-bebasnya dalam perekonomian dunia. Lalu bagaimana dengan Islam, Islam saat ini memang sedang terpuruk, hampir hancur digilas Kapitalisme barat. Apa lagi pasca tragedi 11 September yang menimbulkan phobia terhadap Islam dan usaha untuk memarjinalisasi umat muslim merupakan usaha yang menguntungkan. Dunia barat mencari sebuah cara untuk memeras keuntungan dari industri rasa takut tersebut. Tentu kita masih ingat film Fitna buatan Gert Wilders seorang Yahudi Belanda, karikatur nabi dan pelarangan dan kampanye anti jilbab di eropa.

Di Indonesia umat Islam yang mayoritas sejak zaman kolonial sampai hari ini pun tidak luput dapat serangan kelompok pengidap Islamophobia. Kalau dahulu pada zaman kolonial Snouck Hurgronje yang sempat berganti nama menjadi Abdul Ghafar memetakan kondisi mikro bilogis Islam di Indonesia untuk digunakan melemahkan perlawanan umat Islam terhadap penjajahan Belanda. Saat ini pemerintah pun telah terkooptasi dan termakan propaganda barat dengan memposisikan umat Islam sebagai pelaku aksi terorisme bahkan sempat ada wacana untuk mengadakan sweeping di pesantren-pesantren yang dilakukan oleh pihak kepolisian tentu saja atas pesananan asing.

Belum lama ini ustadz Abu Bakar Ba’asyrir kembali dicekal dengan dugaan membiayai latihan militer di Aceh dan terkait beberapa aksi teror di Indonesia. Tetapi seperti akan mengulangi kejadian sebelumnya bahwa dugaan itu hanya sebatas rekayasa untuk kepentingan asing atau pun sengaja mengalihkan isu pemberantasan korupsi yang tidak ada habisnya. Sehingga wajar saja jika apa yang dilakukan pemerintah ini, dinilai telah menyudutkan umat Islam, kalau nantinya semua ulama yang mengadakan kegiatan pengajian di Indonesia dikatakan sebagai jaringan terorisme. Apakah berlebihan kalau saya katakan bahwa Islamophobia memang ada dan bahkan sedang menghantui serta menteror umat Islam di Indonesia.

Dari Fariz Maulana Akbar

SAAT ISLAMOPHOBIA MARAK DI AMERIKA

Katanya Amerika kampiun demokrasi dan contoh kebebasan beragama. Cordoba House membuktikan lain. Bahkan ada upacara membakar Quran.

FEISAL Abdul Rauf, 62 tahun, sekarang jadi sasaran caci-maki di Amerika Serikat. Soalnya, warga Amerika berdarah Kuwait inilah pemimpin Cordoba Initiative , bersama istrinya, Daisy Khan, dan pengusaha real estate Sharif al-Gamal. Mereka punya ide membangun Cordoba House.

Itulah pusat komunitas Islam – berupa gedung 13 lantai -- yang direncanakan terdiri dari masjid berkapasitas 2000-an jemaah, pusat kesenian (performing arts center) berkapasitas 500 pengunjung, restauran, lapangan basket, kolam renang, pusat kebugaran (fitness center), sekolah, toko buku, dan berbagai aktivitas lain. Biaya pembangunannya ditaksir mencapai 100 juta dollar (sekitar Rp 900 milyar). Cukup wah.

Pusat komunitas itu akan berdiri di bekas bangunan gudang di Park Place (biasa disebut Park 51), yang mereka beli seharga 5 juta dollar tahun lalu. Semua izin yang diperlukan sudah diperoleh. Walikota New York Michael Bloomberg sejak awal memang mendukung rencana ini.

Tempat itu terpaut cuma dua blok dari Ground Zero, lokasi tempat berdirinya dulu menara kembar World Trade Center (WTC) di Mahattan, New York. Kini World Trade Center hanya tinggal nama setelah dirubuhkan serangan teroris pimpinan Usamah Bin Laden pada 11 September 2001.

Feisal Abdul Rauf mau pun teman-temannya di Cordoba Initiative tentu saja tak ada hubungan dengan Usamah, putra konglomerat Arab Saudi yang kini jadi buron nomor satu Amerika Serikat itu.

Tapi lokasi Cordoba House dekat Ground Zero, dijadikan alasan oleh sejumlah tokoh konservatif dan Kristen ekstrem untuk menantang pembangunan pusat komunitas itu. Tokoh-tokoh politik dari Partai Republik yang beroposisi bersama organisasi kemasyarakatan pendukungnya Tea Party, tampaknya memanfaatkan situasi demi keuntungan politik.

Maklumlah November ini,memilih sebagian Gubernur, sebagian anggota Senat dan seluruh anggota DPR (House of Representative). Partai Republik yang minoritas di Senat mau pun DPR tampaknya ingin membalikkan keadaan.

Sarah Palin, bekas Gubernur Alaska, calon Wapres Partai Republik yang gagal dalam pemilihan presiden lalu, menulis di Twitter bahwa pembangunan masjid di Ground Zero adalah tindakan provokasi yang tak perlu. "Itu menusuk hati," tulisnya.

Bekas Ketua DPR (House Speaker), juga dari Partai Republik, Newt Gingrich, menulis bahwa tak akan ada masjid di dekat Ground Zero selama tak ada gereja atau sinagog di Saudi Arabia.

Apa kaitan Cordoba Initiative dengan Kerajaan Saudi Arabia? Tak ada. Para pengurus panitia pembangunan Cordoba House semua warga negara Amerika Serikat, bukan Saudi Arabia. Artinya: bukan pemerintah Arab Saudi yang akan membangun masjid di Manhattan, maka sungguh tak relevan menghubungkan pembangunan Cordoba House dengan eksistensi gereja atau sinagog di Saudi Arabia.

Muslim Jadi Hantu

Tapi Gingrich terus berkoar-koar, menurut sementara pengamat, untuk meningkatkan populeritas karena ia ingin mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pemilu mendatang.

Malah pemakaian nama Cordoba, oleh Gingrich, dituduh hanya untuk mengingatkan orang bahwa Islam pernah menundukkan dan menjajah Kristen di Spanyol. Cordoba adalah ibu kota Kerajaan Islam di Spanyol dulu.

Padahal panitia menggunakan nama Cordoba untuk simbol perdamaian karena di Cordoba dulu orang Islam, Kristen, dan Yahudi, hidup berdampingan dengan damai sepanjang ratusan tahun.

Tokoh Partai Republik lainnya, Gubernur Minnesota Tim Pawlenty mengatakan pembangunan masjid akan menurunkan martabat dan kehormatan kawasan Ground Zero. Pernyataan ini lebih aneh lagi. Sebab di Manhattan selama ini sudah ada setidaknya 2 masjid dan sebuah sinagog, selain klub malam, café, studio tari telanjang, pelacuran homo, dan bermacam tempat maksiat.

Salah satu adalah Masjid Manhattan berdiri tahun 1970 di Warren Street atau kira-kira 4 blok dari Ground Zero. Yang satu lagi berdiri 1985, Masjid al-Farah di West Broadway sekitar 12 blok terpaut dari Ground Zero.

Feisal Abdul Rauf sejak lama menjadi imam di Masjid al-Farah sampai belakangan ini ia sibuk di Cordoba Initiative. Ide mendirikan masjid baru karena kedua masjid tadi sudah terlalu kecil oleh bertambahnya jemaah.

Bekas Gubernur Massachusetts dan salah satu kandidat calon presiden dari Partai Republik dalam Pemilu lalu, Mitt Romney, menentang pembangunan masjid itu dengan dalih mengikuti keinginan keluarga para korban peristiwa teror 11 September. Selain ia melihat masjid itu berpotensi menjadi tempat rekrutmen dan propaganda global kelompok ektremis.

Padahal sesungguhnya, keluarga korban 11 September terpecah: sebagian menolak pembangunan Cordoba House, sebagian lagi mendukungnya.

Tapi yang jelas, serangan para tokoh itu segera bergaung ke seantero negeri dalam bentuk gelombang kebencian kepada Islam (Islamophobia) dan menyebabkan kaum Muslim Amerika Serikat terancam.

Sejumlah bus kota di New York kini terlihat berkeliling dengan iklan menempel di dinding, menggambarkan sebuah pesawat udara sedang menukik menuju menara World Trade Center yang diberi nama ‘’Mega Mosque’’ -- masjid mega. Lalu ada pertanyaan: ‘’Why there?’’ Mengapa di sana?

Iklan yang mengaitkan serangan teroris 11 September dengan pembangunan masjid itu dipesan sebuah kelompok penentang pembangunan Cordoba House yang menamakan diri American Freedom Defence Initiative.

Azeem Khan dari The Islamic Circle of North America, mengatakan iklan itu hanya untuk menyebarkan ketakutan dan kebencian pada kaum Muslim Amerika Serikat. ‘’Mereka ingin Islam dan kaum muslim jadi hantu sekarang,’’ katanya seperti ditulis koran online Inggris, guardian.co.uk, 12 Agustus lalu.

Presiden Barack Obama berusaha mengubah keadaan dengan menyatakan dukungan tegas atas pembangunan masjid itu. Kata Obama, ummat Islam memiliki hak yang sama untuk mempraktekkan agamanya sebagaimana warga lainnya . ‘’Itu termasuk hak membangun rumah ibadah dan pusat komunitas di Lower Manhattan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Ini Amerika. Komitmen kita kepada kebebasan beragama tak bisa digoyahkan,’’ kata Obama dalam acara buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih, pertengahan Agustus.

Apa pun kata Obama, yang jelas, membangun masjid tak gampang di Amerika Serikat, negeri kampiun demokrasi dan paling suka menggurui negeri lain dalam mempraktekkan kebebasan beragama.

Terbukti setelah dukungannya, Obama malah dicurigai sebagai pemeluk Islam. Survei yang dilakukan kemudian menunjukkan meningkatnya jumlah orang Amerika yang percaya – kini satu di antara lima orang Amerika -- Obama seorang pemeluk Islam. Gedung Putih pun sibuk membantahnya sekalian menegaskan Obama seorang Kristen yang mempraktekkan ajaran Kristen.

Sekarang bukan hanya Cordoba House yang jadi masalah – walau semua izin yang diperlukan sudah diperoleh – tapi juga sejumlah masjid atau Islamic center di tempat lain. Tantangan selalu muncul dari kelompok sayap kanan yang konservatif, apakah karena fanatisme agama Kristen atau kepentingan politik. Para tokoh Partai Republik terlihat menunggangi isu itu.

Di Murfreesboro, kota berpenduduk 100.000 jiwa di Tennessee, rencana pembangunan Islamic center di lokasi seluas 15 acre mendapat tentangan keras dari kelompok ekstrem Kristen pendukung Partai Republik. Mereka menuduh kompleks itu akan jadi tempat pelatihan teroris untuk menjatuhkan pemerintahan Amerika Serikat dan memberlakukan syariat Islam.

‘’Itu bukan agama. Mereka adalah grup militer politis,’’ kata Bob Shelton, 76 tahun, pensiunan yang tinggal di dekat areal itu, seperti disiarkan kantor berita Associated Press, 9 Agustus lalu.

Shelton adalah salah satu dari ratusan demonstran yang memperotes pembangunan Islamic center itu. Banyak di antara mereka memakai baju oblong dengan tulisan ‘’Vote for Jesus’’, sembari membawa poster ‘’No Sharia law for USA’’ (Tak ada hukum syariah untuk Amerika Serikat). Akibat demo-demo itu penduduk muslim setempat terpaksa minta perlindungan polisi untuk melaksanakan ibadah di masjid.

Bom Pipa Meledak

Beberapa bulan sebelumnya, di Temecula, selatan California, kelompok Tea Party membawa beberapa anjing galak untuk menghadang umat Islam setempat yang sedang melaksanakan salat Jumat. Mereka melakukannya sebagai protes atas rencana pembangunan masjid baru di areal kosong di situ.

Beberapa peristiwa mirip terjadi di berbagai daerah lain seperti di Texas atau Wisconsin. Di Sheboygan, Wisconsin, sejumlah pendeta terlibat polemik seru dengan sekelompok muslim yang ingin membuka sebuah masjid. Dulunya masjid itu adalah toko makanan kesehatan, lalu dibeli seorang dokter yang muslim karena ingin menjadikannya masjid.

Di Texas, jemaah Masjid An-Noor nyaris baku hantam dengan sekelompok orang yang menamakan diri ‘’Operation Save America’’ (operasi selamatkan Amerika) yang tiba-tiba mengepung masjid sembari berteriak-teriak menyemburkan kalimat-kalimat yang penuh kebencian.

Masih di Texas, di Kota Arlington, kompleks Dar El Eman Islamic Center akhir Juli lalu dirusak dan dibakar orang tak dikenal. Kerusakan cukup parah di bagian permainan anak-anak (play ground). Sampai sekarang polisi belum berhasil menangkap orang yang bertanggung jawab atas perbuatan anarkis ini.

Di Islamic Center Jacksonville, Florida, awal Mei lalu, sebuah bom pipa meledak. Tak ada korban. Tapi peristiwa itu sangat mengejutkan para jemaah masjid.

Yang paling gila adalah program yang direncanakan sebuah gereja di Gainesville, Florida, dipimpin Pendeta Terry Jones. Mereka akan mengadakan upacara pembakaran kitab suci al-Quran di gereja itu pada 11 September 2010, melalui sebuah upacara yang mereka juluki “The International Burn A Quran Day’’ (Hari pembakaran Quran internasional). Upacara itu dimaksudkan untuk memperingati serangan teroris ke WTC, 11 September 2001.

Berbagai persiapan telah dilakukan di gereja miik The Dove World Outreach Center itu. Antara lain dengan membuat facebook yang memuat berbagai alasan pembenaran atas rencana mereka.

Sekarang di facebook itu bisa ditemukan pengumuman ini: On September 11th, 2010, we will burn the Koran on the property of Dove World Outreach Center in Gainesville, FL, in remembrance of the fallen victims of 9/11 and to stand against the evil of Islam. Islam is of the devil (Pada 11 September 2010, kami akan membakar Quran di properti Dove World Outreach Center di Gainesville, FL, untuk memperingati korban yang gugur pada 11 September dan menyiapkan diri melawan kejahatan Islam. Islam dari setan).

Kalimat terakhir itu, Islam is of the devil (Islam dari Setan), diambil dari judul buku yang ditulis Pendeta Terry Jones. Isi buku itu sudah bisa ditebak hanya hujatan terhadap Islam dan muslim. ‘’Tujuan semua protes ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada muslim untuk bertobat,’’ kata pendeta itu (Huffington Post, 28 Juli 2010).

Majelis Tertinggi Al-Azhar di Kairo dalam pernyataannya 12 Agustus lalu, mengutuk rencana gereja di Florida itu dan menuduhnya sebagai tindakan menghasut, menyebarkan kebencian dan diskriminasi. Al-Azhar mengimbau gereja lain di Amerika Serikat untuk mengutuk rencana itu (Associated Press, 12 Agustus 2010).

Selain dari Al-Azhar, reaksi kelompok Islam yang lain belum terdengar. Yang jelas bila kelak rencana ini terlaksana, bearti upacara pembakaran al-Quran itu dilaksanakan tepat ketika ummat Islam melaksanakan perayaan Idul Fitri.

Memang sikap Islamophobia yang penuh kebencian dari Pendeta Terry Jones tak bisa disebut sebagai gambaran sikap seluruh ummat Kristen Amerika Serikat terhadap Islam. Tapi menurut Profesor John Esposito, ahli studi Islam paling terkemuka di Amerika Serikat dari Georgetown University, Washington, banyak orang Amerika menerima pikiran-pikiran Pendeta Terry Jones.

Pertentangan dalam rencana pembangunan masjid di Ground Zero, menjadi tameng bagi orang-orang untuk melampiaskan kebencian terhadap Islam secara lebih terbuka setelah serangan 11 September yang traumatis.

Setelah 11 September, apa yang terlihat sebagai peristwa lokal telah mengglobal dan menjadi payung sehingga orang tiba-tiba merasa bebas terbuka dengan keberatannya terhadap orang Islam. “Menurut sejarahnya memang ada problem di Mississippi atau Georgia, atau New York, atau di mana pun ketika orang ingin mendirikan masjid,’’ kata Esposito (lihat guardian.co.uk, 12 Agustus 2010).

Maka perusakan masjid sering terjadi. Sekadar contoh, Maret lalu, hakim menjatuhkan hukuman 183 bulan penjara (15 tahun lebih) kepada Eric Ian Baker, 34 tahun, karena bersalah membakar masjid di Islamic Center of Columbia di Tennessee. Baker bersama dua temannya, Februari 2008, membakar masjid tadi dengan menggunakan bom Molotov.

Selain Baker, dua temannya telah dibawa ke pengadilan. Seorang di antaranya, Michael Corey Golden, dijatuhi hukuman 171 bulan penjara. Temannya, Jonathan Edward Stone, telah dinyatakan bersalah oleh hakim tapi hukumannya belum dijatuhkan.

Pengusiran Imigran China

Ditaksir penduduk muslim di Amerika Serikat sekarang tak sampai 5 juta. Tapi Islam di sana termasuk agama yang sedang tumbuh. Sekitar 10 tahun lalu, jumlah masjid di negeri itu hanya 1200. Sekarang, seperti dikatakan Profesor Ihsan Bagby, ahli studi Islam di University of Kentucky, sudah tumbuh menjadi 1900 masjid. Termasuk di dalamnya sejumlah Islamic center – seperti di New York, California, atau Tennessee – yang dapat menampung jumlah jemaah lebih banyak.

Ada pendapat yang mengatakan banyaknya pembangunan masjid itu berkaitan dengan banyaknya imigran di antara ummat muslim di sana. Mereka datang dari India, Pakistan, negeri-negeri di Afrika, atau Timur Tengah. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center tiga tahun lalu, menemukan bahwa 39% dari penduduk dewasa Islam adalah imigran yang datang ke Amerika Serikat sejak 1990.

Imigran itu, menurut Diana Eck, Profesor dalam perbandingan agama di Harvard University, punya kecendrungan ingin membangun sesuatu. Dengan itu, mereka merasa tak lagi sekadar penumpang di negeri baru. ‘’Sebagian, itu menyebabkan komunitas menancapkan akarnya dan menjadikan Amerika rumah mereka,’’ kata Diana Eck (artikel Travis Loller, Associated Press, 9 Agustus 2010).

Pembangunan masjid atau Islamic Center memang tak berjalan mulus karena sering mendapat protes dari masyarakat. Itu tak aneh karena seperti dikatakan Profesor John Esposito tadi, sejumlah daerah di Amerika Serikat memang punya sejarah menolak pembangunan masjid.

Bila dilihat sejarah, bukan hanya Islam atau muslim yang mengalami penolakan seperti ini di Amerika Serikat. Di tahun 1800-an, muncul agama Mormon (sekarang gerejanya bernama the Church of Jesus Christ of Later-Day Saints) dengan Joseph Smith sebagai nabi.

Apa yang terjadi? Kelompok agama baru ini diburu dan nabinya ditangkap. Belum cukup. Pada 27 Juni 1844, ratusan massa menyerbu penjara di Missouri dan membunuh Joseph Smith dan pembantunya yang ditahan di sana.

Penolakan juga terjadi ketika agama Katolik masuk dan berkembang di Amerika Serikat. Terjadi konflik dan kerusuhan. Mereka mengalami diskriminasi . Sejarah Amerika Serikat juga dikotori oleh peristiwa pembunuhan dan pengusiran imigran China.

Bila diamati apa yang terjadi di sana maka kita di Indonesia jauh lebih menghargai kelompok mintoritas. Pada Hari Raya Nyepi di Bali, misalnya, pendud uk muslim atau Kristen ikut berkurung bersama ummat Hindu karena semua toko, pasar, bahkan lapangan terbang harus ikut ‘’nyepi’’.

Pemerintah memberlakukan hari libur pada semua hari besar agama, tak terbatas hari besar agama mayoritas seperti yang terjadi di Amerika Serikat atau Eropa atau Australia. Dan umat Islam sebagai mayoritas menerimanya dengan ikhlas.

Kembali cerita pembangunan masjid di Gound Zero. Kini Feisal Abdul Rauf sudah dituduh sebagai ulama ekstrem, bahkan pendukung terorisme. Kelemahannya mulai dicari-cari. Misalnya, sekarang dipersoalkan ceramah Feisal Abdul Rauf pada 2004 di Masjid al-Farah di West Broadway, Manhattan.

Ketika itu Feisal mengatakan, dalam peperangan Islam tak membunuh orang-orang sipil tak berdosa. ‘’Adalah orang Kristen di dalam Perang Dunia II yang mengebom orang-orang sipil tak berdosa di Dresden (Jerman) dan Hiroshima (Jepang), sekali pun kedua daerah itu bukan sasaran militer,’’ katanya.

Belum sebulan terjadi peristiwa serangan 11 September, Feisal diwawancara dalam acara TV, CBS’s 60 Minutes. Ketika itu ia mengatakan bahwa pimpinan teroris Usamah Bin Laden adalah buatan Amerika Serikat ("Osama Bin Laden is made in the USA’’).

Sarah Palin, Rick Lazio, bekas anggota DPR (Partai Republik) dan kini calon Gubernur New York, atau bekas Gubernur New York dari Partai Republik, Rudy Giuliani, menjadikan pernyataan tadi sebagai alasan untuk menuduh Feisal Abdul Rauf sebagai pendukung kelompok radikal dan bersimpati kepada teroris Islam.

Tentu Rauf membantahnya, sebagaimana ia juga membantah dituduh sebagai anggota Ikhwanul Muslimun, organisasi di Mesir, yang mempromosikan Quran dan Hadis sebagai basis paling tepat bagi masyarakat.

Tugas Deplu ke Timur Tengah

Memang sampai sekarang belum satu pun tuduhan kepada ulama sufi ini bisa dibuktikan. Malah berbagai pernyataannya tadi sebenarnya punya cukup alasan. "Usama made ini USA’’, misalnya, bisa dibaca di berbagai buku yang sudah terbit selama ini.

Antara lain, Good Muslim, Bad Muslim, America, the Cold War, and the Roots of Terror (Three Leaves Press, Doubleday, New York 2005) yang ditulis Profesor Mahmood Mamdani, Direktur Studi Afrika Columbia University, New York. Atau bisa dilihat buku House of Bush, House of Saud (Scribner 2004) yang ditulis wartawan Crigh Unger.

Di kedua buku itu diungkapkan bahwa Usamah Bin Laden dan kawan-kawan Mujahidin-nya berjuang di Afghanistan mengusir tentara pendudukan Uni Soviet di tahun 1980-an, dengan bantuan badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Setidaknya diketahui CIA membantu mereka 3 milyar dollar ditambah rudal jinjing Stinger buatan Amerika yang banyak digunakan merontokkan heli tempur Uni Soviet.

Dari seluruh dunia, CIA mendatangkan para pejuang muslim – termasuk dari Indonesia – yang kemudian dilatih bertempur untuk menghadapi tentara Uni Soviet. Seperti diketahui Uni Soviet bisa dikalahkan dan harus menarik mundur pasukannya dari Afghanistan. Akibat kekalahan ini, antara lain, Uni Soviet kemudian terpecah-pecah.

Jadi kalau disebutkan Usamah Bin Laden buatan Amerika Serikat, memang ada benarnya. Karena CIA-lah yang melatih Usamah dan kawan-kawannya untuk bertempur dan mengenal berbagai model bahan peledak yang menjadi modal mereka dalam gerakan terorisme.

Belakangan, mereka menggemparkan dunia setelah berhasil merubuhkan Menara Kembar WTC di Manhattan, New York, 11 September 2001, memakan korban sekitar 3000 orang, hampir 10% di antaranya adalah muslim.

Di dalam House of Bush, House of Saud, Crigh Unger malah mengungkap bahwa keluarga Bin Laden dan keluarga Bush saling kenal dan bersahabat. George Bush atau ayahnya, George H.W.Bush, keduanya adalah mantan Presiden Amerika Serikat.

Selain itu, adalah fakta ketika Feisal Abdul Rauf mengatakan bahwa Amerika Serikat mengebom habis-habisan Dresden sehingga banyak orang sipil tak berdosa menjadi korban. Adalah fakta pula Amerika menjatuhkan bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima yang memakan korban banyak penduduk sipil di akhir Perang Dunia II.

Feisal adalah seorang sufi. Sebagai Imam Masjid al-Farah di Manhattan, ia dikenal moderat. Ia punya misi yang terus diperjuangkannya secara konsisten: membangun jembatan yang menghubungkan masyarakat Amerika, masyarakat muslim Amerika, dan masyarakat muslim dunia.

Untuk itulah, pada 1997, bersama istrinya, Daisy Khan yang berprofesi sebagai desain interior, ia mendirikan the American Society for Muslim Advancement, organisasi sipil yang bertujuan mempromosikan hubungan baik masyarakat Amerika dengan masyarakat muslim Amerika. Dalam kaitan itu pula Feisal telah menulis tiga buku, salah satu di antaranya What’s Right with Islam is What’s Right with America.

Wanita penulis terkenal dari Inggris yang banyak menulis tentang Islam, Karen Amstrong, memujinya sebagai figur jembatan karena ia memiliki akar yang dalam di dua dunia itu (Islam dan Barat). Ia belajar di Mesir, Inggris, Malaysia, dan Amerika Serikat, dan lalu memimpin masjid di Manhattan, New York.

Ketika terjadi peristiwa 11 September, menurut Karen Amstrong, banyak orang bertanya kepadanya, "Mana muslim moderat? Mengapa mereka sekarang tak bicara? Dengan Imam Rauf, kita memiliki muslim yang bisa bicara kepada orang Barat dengan bahasa yang bisa mereka mengerti,’’ tulis Amstrong dalam kata pengantar di sebuah buku Rauf.

Fareed Zakaria, wartawan dan kolomnis Majalah Newsweek itu, memuji pernyataan Feisal yang menyejukkan dalam hubungan antar-kepercayaan. Begitu pula Walter Isaacson, pemimpin Aspen Institute, organisasi yang membangun kerja sama muslim-kristen-yahudi. "Ia seorang yang konsisten menolak Islam radikal dan terorisme, mempromosikan Islam yang moderat dan toleran,’’ ujar Isaacson.

Karena itulah setelah peristiwa 11 September, atas permintaan polisi federal Amerika Serikat, FBI, Feisal melakukan pelatihan kebudayaan terhadap ratusan agen FBI. Tampaknya pelatihan itu untuk memberi pengenalan tentang muslim dan Islam bagi para agen FBI.

Selain itu, Feisal mendapat penugasan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk menjelaskan kondisi ummat Islam Amerika Serikat dan hubungannya dengan pemerintahan negeri itu kepada masyarakat Timur Tengah. Ia sudah dua kali mengelilingi Timur Tengah di tahun 2007, di zaman pemerintahan Presiden George Bush.

Kemudian untuk tahun 2010, mulai 20 Agustus lalu, Feisal kembali mengelilingi Timur Tengah. Direncanakan ia akan menghabiskan waktu sekitar 15 hari berkeliling di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kunjungan itu ia mulai dengan memimpin shalat Jumat, 20 Agustus lalu, di sebuah masjid di Manama, ibukota Bahrain. Dalam sebuah acara televisi ia mengatakan bahwa ancaman keamanan terhadap Barat dan dunia muslim adalah ekstremisme. Tapi Feisal menolak mendiskusikan penolakan masyarakat Amerika atas rencananya membangun Islamic center di dekat Ground Zero.

Tampaknya kalau ia membicarakan masalah itu, tak lain yang bisa ia sampaikan bahwa penolakan pembangunan masjid di Ground Zero menunjukkan masyarakat Amerika Serikat menderita Islamophobia, rasis, dan tak toleran. Pernyataan seperti itu tentu bertentangan dengan misinya dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengelilingi Timur Tengah. [hidayatullah.com]








Oleh Amran Nasution
Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Selasa, 21 Desember 2010

CARA PANDANG MUSLIM TERHADAP COBAAN HIDUP

Hidup adalah perjuangan”, istilah itulah yang mungkin paling tepat untuk mendeskripsikan makna dari sebuah kehidupan. Maka setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan. Jika seorang manusia ingin hidup tanpa mau berjuang, maka sama saja ia sedang mengharapkan sebuah kematian untuk menjemputnya.

Allah swt mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk mengabdi/beribadah kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia yang tidak mau beribadah kepada Allah swt maka ia tidak patut untuk hidup.

Ibadah kepada Allah swt, itulah perjuangan hidup yang diajarkan di dalam Islam. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan. Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang, karena Islam mengajarkan bahwa Allah swt tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu sendirilah yang harus berjuang untuk merubahnya. Sama saja dengan seorang karyawan yang direkrut untuk bekerja, kalau dia tidak mau bekerja maka berhenti saja menjadi karyawan.

Satu hal yang identik dengan perjuangan adalah adanya cobaan. Cobaan adalah salah satu bagian dari setiap perjuangan yang tidak dapat dihindarkan, pasti dialami dan dirasakan oleh setiap manusia dalam perjalanan hidup.

Cobaan memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali manusia yang merasa sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari Allah swt. Bahkan ada pula yang nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu untuk bertahan dengan cobaan yang tengah dialaminya.

Umat muslim tidak pantas bersikap demikian. Putus asa dan terjebak dalam duka yang tak berkesudahan bukanlah sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya senantiasa optimis dan berpikiran positif. Berbaik sangka kepada yang telah memberikan cobaan, yaitu Allah swt adalah jalan terbaik yang diajarkan oleh Islam. Karena sesungguhnya Allah swt akan menjawah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jika hambanya berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan diterimanya. Namun, jika hambanya senantiasa berbaik sangka maka Allah swt pun akan memberikan kebaikan kepadanya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt di dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HR. Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675 - lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)

Islam telah mengajarkan kepada umatnya bahwa tidak ada sesuatu apapun yang telah diciptakan di dunia ini melainkan pasti ada manfaatnya. Tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia, dan tidak ada pula yang diciptakan tanpa tujuan. Allah swt telah memperhitungkannya dengan sangat sempurna. Bahkan Islam mengajarkan bahwa setiap cobaan itu merupakan salah satu bentuk pembersih dari dosa-dosa yang telah diperbuat, cobaan merupakan tanda cinta dari Allah swt. Semakin Allah swt mencintai seorang hamba maka semakin banyak cobaan yang akan diberikan-Nya. Hal itu tidak lain hanyalah untuk semakin meningkatkan rasa cinta dan kedekatan umatnya kepada-Nya.

Islam memandang cobaan sebagai suatu pelajaran yang bernilai positif, bukan sebagai satu hal yang negatif. Begitulah kacamata Islam, selalu mengajarkan untuk melihat dengan kacamata positif. Cobaan merupakan gudang hikmah yang sangat berharga. Banyak hikmah yang dapat dipetik melalui sebuah cobaan, di antaranya adalah:
  • Cobaan Adalah Pembersih
Dalam kacamata Islam, cobaan yang menimpa seorang muslim sebenarnya adalah bukti kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Karena, dengan cobaan itulah Allah swt akan membersihkan seseorang dari dosa-dosanya yang telah overload. Kalau dosa-dosa tersebut tidak dibersihkan, tentu saja akan mencelakakan manusia tersebut.

Pembersihan dilakukan oleh Allah swt untuk mengurangi siksa Allah swt yang pedih di akhirat kelak. Allah swt pun tidak menginginkan hamba-Nya menemui-Nya dalam keadaan penuh dengan dosa, sehingga Allah swt membersihkan atau menghisapnya terlebih dahulu. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Dan itulah salah satu wujud indahnya berada di dalam naungan Islam. Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR. At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143)
  • Penyempurna Keimanan
Dalam ajaran Islam, cobaan merupakan salah satu media yang dapat menyempurnakan keimanan seseorang. Karena, kesempurnaan iman dapat dilihat dari keitiqomahannya untuk tetap taat kepada Allah swt baik dalam keadaan senang maupun susah.

Rasulullah saw bersabda mengenai bagaimanakah sifat seorang muslim yang sebenarnya, yang artinya:

“Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
  • Mengingatkan Umatnya
Islam juga menganggap cobaan sebagai alarm pengingat pesan bagi seluruh umatnya. Dengan cobaan itulah, Allah swt senantiasa mengingatkan manusia bahwa mereka itu adalah makhluk yang lemah, tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan kehendak Allah swt. Tidak ada yang patut dibanggakan atau disombongkan. Rasulullah saw telah berfirman yang artinya:
“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari no. 6053)

Hadits di atas jelas sekali mengingatkan umat Islam bahwa hidup ini hanyalah ibarat sebuah perjalanan, yang suatu saat pasti akan berakhir atau mencapai tempat tujuannya, yaitu kampung akhirat.

Dengan adanya cobaan, maka umat muslim akan senantiasa diingatkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kuat dan tidak ada pula yang abadi. Semua akan kembali kepada Allah swt.

Sumber: syahadat.com

Translate to Arabic Translate to Bahasa Indonesia Translate to Bulgarian Translate to Simplified Chinese Translate to Croatian Translate to English Translate to Czech Translate to Danish TTranslate to Dutch Translate to Finnish Translate to French Translate to German Translate to Greek Translate to Hindi Translate to Italian Translate to Japanese Translate to Korean Translate to Norwegian Translate to Polish Translate to Portuguese Translate to Romanian Translate to Russian Translate to Spanish Translate to Swedish Translate to Slovak Translate to Serbian Translate to Thai Translate to Turkey Translate to Filipino Translate to Filipino