Senin, 21 April 2008

AL-AKHLAK AL-ISLAMIYAH

I. Pengertian Akhlak

Pengertian akhlak secara etimologis adalah perangai, kebiasaan, tradisi, perbuatan dan tingkah laku, baik terpuji maupun tercela. Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab bentuk jamak dari khuluq.
Untuk memberikan gambaran tentang akhlak disini dikemukakan beberapa definisi atau batasan pengertian dari beberapa ahli antara lain :
Definisi Ibnu Athir dalam kitabnya An-Nihayah.
Khuluq ialah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedangkan akhlak gambaran bentuk luarnya.
Definisi Ibnu Maskawih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlaq Wa Tathhirul A’raq, akhlak ialah :
Sikap jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan (terlebih dahulu).
Definisi Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin :
Akhlak ialah ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan / pikiran (terlebih dahulu).
Akhlak Islamiyah adalah akhlak dengan sumber ajaran wahyu Allah yang tercantum dalam kitab suci al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasul Muhammad melalui sunnahnya sehingga tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Moral atau etika adalah prilaku yang bersumber dari masyarakat sehingga dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

II. Akhlak Rasulullah
Salah satu dari ajaran pokok agama Islam yang dibawa Rasul Muhammad SAW adalah konsepsi yang berkaitan dengan penyempurnaan akhlak. Akhlak yang diajarkan Rasul Muhammad misinya bersifat abadi dan universal, yaitu untuk seluruh manusia disepanjang masa. Ia merupakan inti ajaran Islam yang memberi bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa umat manusia yang dalam dimensi inilah terletak hakekat dan martabatnya. Sikap mental, kehidupan jiwa dan akhlak yang luhur itulah yang menentukan wujud dari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Mengenai misi pokoknya yang berkaitan dengan penyempurnaan akhlak, beliau bersabda : “Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk melengkapi kesempurnaan akhlak”. (H.R. Baihaqi).
Seluruh aspek dari sejarah kehidupan dan perjuangannya, menjadi bukti bagi umat manusia akan kebenaran sabda beliau tersebut. Dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa, menyusul masa dibangkitnkannya menjadi Rasul, dipenuhi dengan bukti-bukti sejarah. Tidak pernah dijumpai cacad atau kekurangan dalam sejarah hidup Nabi, meskipun beliau hidup dalam lingkungan masyarakat jahiliyah yang diliputi dengan kebodohan dan kedzaliman. Pribadinya yang agung dan kokoh tidak terpengaruh oleh lingkungannya yang tidak baik, karakternyalah yang kemudian merubah secara berani kehidupan manusia dizamannya dan zaman sesudahnya menuju kehidupan yang lebih baik. Ia mengubah suatu masyarakat dari manusia jahiliyah yang terbelakang dan tidak dikenal sejarah menjadi suatu masyarakat yang modern yang diperankan oleh manusia-manusia baru yang beriman dan bertaqwa. Dalam waktu yang relatif singkat dengan keluhuran akhlaknya, beliau berhasil merubah masyarakat yang terbelakang menjadi masyarakat maju yang menentukan sejarah dunia.
Al-Qur’anul Karim memuji akhlak beliau dalam salah satu ayatnya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berada pada akhlak yang agung”. (al-Qalam, 68 : 4). Keagungan akhlak Rasulullah menjadi contoh dari suri taudalan bagi setiap orang yang beriman dan mereka yang ingin meraih kesuksesan dalam segala kehidupan. Kaum muslimin secara keseluruhan diperintahkan oleh al-Qur’an agar menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh dan tauladan dalam segala kehidupannya sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia menyebut Allah sebanyak-banyaknya”. (al-Ahzab, 33 : 21).

Dalam kegiatan hariannya, Rasul Muhammad SAW terus membimbing umatnya menuju kepada akhlak yang luhur, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Manusia diarahkan menghubungkan silaturahmi terhadap sesamanya, memuliakan tamu, berbuat baik terhadap tetangga, mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Semua orang dibimbing dengan penuh kebijaksanaan menjadi manusia-manusia yang penyantun dan dermawan, bahwa tangan di atas lebih baik dan dicintai dari tangan yang di bawah. Pada setiap orang dituntunnya agar setia memegang amanah, berdisiplin, memenuhi janji, melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-hak sesama. Ucapan Rasulullah SAW seperti juga ucapan para sahabatnya dan orang-orang yang beriman selalu sesuai dengan perbuatan dan kenyataan.

III. Fungsi Akhlak
Akhlak Islamiyah secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak terhadap Khalik atau pencipta (Allah SWT) dan akhlak terhadap makhluk. Makhluk dibagi menjadi dua bagian yaitu manusia dan bukan manusia. Akhlak terhadap manusia terdiri dari enam bagian yaitu akhlak terhadap : (1) Para Nabi dan Rasul, (2) akhlak terhadap diri sendiri, (3) akhlak terhadap keluarga, (4) akhlak terhadap masyarakat, (5) akhlak terhadap bangsa, dan (6) hubungan antar bangsa.
Akhlak terhadap makhluk bukan manusia terdiri dari : (1) Akhlak terhadap hewan (fauna), (2) akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan, (3) akhlak terhadap benda mati.
Akhlak kepada Khalik (Allah) antara lain :

Mencintai Allah melebih cinta kepada segalanya.
Mencintai dan membenci sesuatu karena Allah semata.
Bersikap takut kepada Allah dengan jalan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Senantiasa mengharap dan mencari Ridhonya.
Mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.
Bertobat dan berdo’a kepada-Nya
Menerima dengan tulus terhadap segala qada dan qadar-Nya
Senantiasa bertawakkal pada-Nya
Membaca dan mempelajari firmannya.

Akhlak terhadap para Nabi dan Rasul :

Mentauladani Sunnahnya.
Mengucapkan shalawat atasnya.
Mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya.
mengikuti akhlak dan kehidupannya.

Akhlak terhadap diri sendiri :

Menjaga kesucian diri dan menutup aurat.
Jujur dalam perkataan dan perbuatan.
Menepati janji, sabar, rendah hati, memiliki budaya malu.
Menghindari hasad (dengki) dan dendam.
Berlaku adil terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain.
Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.
Bersikap ikhlas, merasa cukup dengan apa yang ada dan bersyukur.

Akhlak terhadap keluarga :

Mendidik keluarga (istri, anak, dan sebagainya).
Menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang.
Saling menunaikan kewajiban dengan baik.
Berbakti kepada orang tua.
Mengekalkan hubungan silaturahim.

Akhlak terhadap tetangga :


Saling bantu dan menolong.
Saling mengunjungi, saling memberi dan saling hormat-menghormati.
Saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.

Akhlak terhadap masyarakat :

Menghormati nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat.
Tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.
Memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Menyantuni fakir miskin.
Bermusywarah dalam segala urusan.
Memuliakan tamu dan anggota masyarakat.
Menunaikan Amanah.

Akhlak terhadap lingkungan hidup :

Mengelola alam (benda mati, flora dan fauna) untuk kepentingan bersama yang bermanfaat sesuai dengan yang diamanatkan Allah SWT.
Kasih terhadap sesama makhluk.
Tidak menyakiti hewan atau merusak alam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan komentar ya...