Senin, 02 Juni 2008

HUMANISME DALAM ISLAM

Konsepsi berbagai masyarakat dan ideologi dunia mengenai humanisme terbadi dengan berbagai macam aliran dan pandangan yang berbeda. Secara garis besar, konsepsi itu terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok yang mengagungkan manusia secara berlebihan sehingga mendewakannya dan konsep merendahkan manusia sebagai makhluk yang hina dan berdosa. Pandangan yang mengagungkan manusia secara berlebihan misalnya dijumpai dalam peradaban Yunani lama. Peradaban itu mengemabangkan ajaran humanisme yang kuat, dibangun atas dasar naturalisme yang berlebihan, sehingga terjadi pendewaan terhadap manusia. Yang menganggap rendah terhadap manusia misalnya kelompok masyarakat yang selalu menonjolkan pandangan bahwa manusia itu adalah makhluk yang lemah, penuh dosa, hina dan pandangan negatif lain yang tidak terpuji.

Humanisme dalam Islam ditegakkan di atas dasar kemanusiaan yang murni diajarkan al-Qur’an. Konsepsi Islam mengajarkan pada umatnya, bahwa Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidaklah menciptakan manusia dengan sia-sia. Dia telah mengaruniakan panca indera, akal dan fikiran serta menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sempurna lahir dan bathin. Humanisme dalam ajaran Islam tidaklah bersifat ekstrim seperti kedua pandangan di atas. Ia tidak mendewakan manusia dan juga tidak merendahkannya, Islam menempatkan manusia pada proporsi sebenarnya. Manusia merupakan makhluk yang menerima amanah Tuhan agar dapat mengkelola alam semesta bagi kesejahteraan bersama. Dengan demikian manusia menjadi makhluk yang paling baik dan sempurna, apabila melaksanakan amanah tersebut. Sebaliknya ia akan menjadi makhluk yang hina apabila menghianati amanat itu dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Menurut pandangan Islam, mulia atau rendahnya menusia tidak terletak pada wujudnya semata sebagai makhluk Tuhan, akan tetapi terletak juga bagaimana ia dapat menjadikan dirinya bermanfaat bagi sesama makhluk. Apabila manusia beriman kepada Allah dan berbuat kebajikan sehingga mereka mampu berbuat banyak dalam mengelola alam maka ia menjadi makhluk terbaik. Sebaliknya apabila manusia ingkar dan berbuat kerusakan di muka bumi serta menghianati amanat yang luhur itu akan tercampak dalam kehinaan dan kenistaan. Amanat Allah yang diberikan kepada manusia adalah merupakan landasan yang kokoh baginya agar berkiprah dalam kehidupan ini sehingga menjadi makhluk yang terbaik. Manusia sajalah yang dapat menduduki derajat yang tinggi itu, karena tidak ada makhluk lain yang dapat melaksanakan amanat yang agung itu.

Humanisme dalam Islam didasarkan pada prinsip-prinsip yang nyata, fitri dan rasional. Ia melarang mendewakan manusia atau makhluk lain dan juga tidak merendahkan manusia sebagai makhluk yang hina dan berdosa. Humanisme dalam ajaran Islam didasarkan pada hubungan sesama umat manusia, baik hubungan sesama muslim ataupun hubungan dengan umat lainnya. Humanisme Islam didasarkan pada :

  • Saling mencintai, kasih sayang dan menjaga kebersamaan. “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”. (Q.S. al-Hujarat : 10). “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh manusia bersedekah, atau berbuat yang ma’ruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (Q.S. al-Nisa : 114).
  • Berpegang teguh pada agama Allah, tidak berselisih, tidak bercerai berai dan selalu menghindari permusuhan. “Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai berai....”. (Q.S. Ali Imran : 103). “Janganlah kamu saling bermusuhan yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah....” (Q.S. al-Anfal : 46).
  • Menjalin hubungan dengan umat lain yang tidak memusuhi umat Islam dengan jalan saling kenal mengenal, saling berbuat baik dan saling bersikap adil. “Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbagai bangsa dan suku agar kamu saling kenal mengenal...” (Q.S. al-Hujarat : 13). “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Q.S. al-Mumtahanah :8).
  • Menjamin kebebasan beragama. “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah”. (Q.S. al-Baqarah : 256).
  • Saling menghormati dan menjunjung kehormatan diri serta memelihara hak bersama.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan komentar ya...