Jumat, 09 Mei 2008

Teknik Penulisan Naskah Khutbah

Khutbah melalui tulisan tidak begitu dirasa hingar bingar dalam kancah kehidupan masyarakat, namun begitu ia memiliki peran yang sangat dominan dalam pengembangan da’wah Islamiyah. Khutbah melalui tulisan baik dalam surat kabar, majalah, buletin atau media lainnya, akan dikaji oleh pembacanya dalam jumlah yang sangat banyak. Dengan waktu yang sangat singkat, buah karya seorang penulis telah tersebar ke berbagai kota bahkan ke berbagai negara. Khutbah melalui tulisan sangat berbeda dengan lisan, karena tulisan lebih bersifat kekal dan dapat diikuti oleh pembaca kapan saja, bahkan sampai penulis tadi telah wafat, tulisannya masih terus dikaji dan dipelajari oleh berbagai kalangan. Kita bisa mengambil contoh, misalnya karya tulis Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali dan tokoh-tokoh lain, masih tetap menjadi kajian yang sangat aktual, setelah berlalu lebih dari seribu tahun.

Memperhatikan perannya yang sangat dominan dalam pengembangan da’wah Islamiyah, apalagi pada masyarakat modern, maka berkhutbah melalui tulisan harus dikembangkan dan dihidup suburkan. Da’wah melalui tulisan merupakan salah satu usaha yang sangat penting dalam memasyarakatkan ajaran Islam dalam kehidupan dunia modern yang ditandai dengan benturan peradaban yang bersifat global. Kita bisa mengkategorikan bahwa menghidupkan da’wah Islamiyah melalui tulisan merupakan jihad atau perjuangan Islam dalam abad ilmu pengetahuan. Pada masa lalu orang berjihad atau berjuang dengan senjata, atau alat perang lainnya, pada masa kini kaum muslimin harus mampu berjuang atau berjihad dengan ketajaman penanya untuk mengantisipasi gencarnya perkembangan komunikasi dalam era dunia modern yang semakin maju dan serba canggih.

Secara singkat, penulisan naskah khutbah, perlu memperhatikan teori jurnalistik yang canggih, kemampuan membaca tanda-tanda zaman, penguasaan materi ajaran Islam dan kiat-kiat khusus, agar karya tulis kita bisa diterima oleh masa media dan diterima oleh penggemarnya. Dalam kesempatan ini dikemukakan secara singkat, beberapa cara yang harus dilakukan dalam menyusun naskah khutbah baik media cetak, ataupun sebagai tulisan lepas, antara lain:

1. Mengawali tulisan dengan muqaddimah atau pembukaan yang sesingkat mungkin, tetapi mencapai sasaran. Hindari mukaddimah yang terlalu panjang dan bertele-tele, sehingga membosankan para jama’ah.

2. Mengawali tulisan dengan kalimat-kalimat yang langsung menarik perhatian para pembaca. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan mengangkat tema-tema yang sedang aktual dalam halaman surat kabar dan majalah.

3. Mengawali materi tulisan dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik dari contoh-contoh kehidupan nabi, sahabat, para wali, orang yang shalih, kaum sufi dan sebagainya. Setelah itu kita sertakan message atau pesan yang ingin kita paketkan dalam tulisan tersebut. Message dikemas sedemikian rupa, dengan cara yang halus, sehingga masuk ke dalam kalbu pembaca.

4. Mengawali tulisan dengan kalimat-kalimat yang bernada istifham atau pertanyaan-pertanyaan? Contoh kalimat seperti ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Misalnya dalam al-Qur’an disebutkan : “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-baqarah, 2:133). “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memelihara untukmu dan mereka akan berlaku baik kepadanya?”, (QS. al-Qashash, 28:12). “...sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (QS. ash-Shaff, 61:10). Sabda Nabi SAW: “Siapakah orang yang paling bangkrut diantara kami? Orang-orang yang bangkrut diantara kami adalah mereka yang datang pada hari hisab menghadap Allah dengan bangga karena amal ibadahnya begitu banyak. Tetapi kemudian datang orang banyak yang dianiaya dan disakitinya ketika hidup di dunia, dan mereka menuntut orang itu. Sehingga segala kebaikan berupa ibadah dan amalnya habis untuk menutupi dosa-dosanya, bahkan tidak cukup, sehingga ia harus menanggung dosa orang-orang yang dianiaya olehnya.

5. Mengisi materi naskah dengan contoh yang hidup dalam peristiwa yang terjadi sehari-hari di tengah masyarakat.

6. Mengawali materi tulisan dengan contoh-contoh yang mengharumkan dan mengesankan dari kisah-kisah para nabi, rasul, sahabat, para wali dan sebagainya.

7. Mengisi materi dengan perkembangan terakhir dari penemuan-penemuan dibidang sains, teknologi dan ilmu-ilmu sosial.

Demikian sedikit cara yang bisa kami sampaikan dalam kajian ini, sebagai contoh dilampirkan naskah khutbah Jum’at dari Dr. Muhammad Al-Gazali, Guru Besar di Universitas Al-Azhar Cairo.

2 komentar:

Silahkan komentar ya...