Senin, 26 Mei 2008

AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Peran agama dalam sejarah kebudayaan manusia selalu berubah, dari masa ke masa. Peran ini adakalanya demikian kuat, sehingga ia menjadi pedoman suci dan tumpuan harapan dari segenap umat manusia, dan adakalanya sangat lemah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, sehingga hampir dilupakan. Kuat atau lemahnya peranan suatu agama dalam kebudayaan umat manusia, sangat bergantung pada esensi ajaran agama itu dan kemampuan dari para juru penerangnya. Bila esensi dari ajaran agama itu sangat menghargai akal pikiran manusia, mengarah pada pencapaian ilmu dan peradaban yang luhur, maka ia akan memiliki peranan yang menentukan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Sebaliknya bila esensi dari ajaran agama itu tidak memberikan penghargaan yang layak pada akal pikiran manusia dan mengarah kepada taqlid atau kebekuan berfikir, tidak menghargai ilmu pengetahuan maka peranannya akan melemah di kalangan umat manusia.

Abad modern sekarang ini yang disebut abad ilmu pengetahuan, ditandai dengan pemikiran rasional dan filosofis serta kemajuan-kemajuan yang luar biasa di bidang sains dan teknologi, akan meninggalkan ajaran agama yang tidak menghargai akal fikiran, tidak mengarahkan umatnya untuk mencapai ilmu pengetahuan.

Sebaliknya agama yang mengajarkan umatnya agar menggunakan akal fikirannya semaksimal mungkin, memerintahkan untuk meraih ilmu pengetahuan dan mengarah pada keluhuran akhlak akan diterima dengan baik oleh masyarakat modern. Agama seperti itulah yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern sekarang ini, karena pada hakekatnya manusia membutuhkan kebahagiaan jasmani dan rohani, kebahagiaan lahir dan bathin. Kebahagiaan yang lengkap itu tidak mungkin akan diperoleh manusia modern tanpa mengikuti bimbingan agama.

Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan ilmu pengetahuan. Ia mendorong umatnya agar terus menuntut ilmu, meraih sains dan teknologi, menggunakan akal fikiran, menggali dan menganalisa setiap aspek ilmu pengetahuan dalam segala lapangan kehidupan. Islam adalah agama kehidupan yang selalu sesuai dengan perkembangan zaman dan dapat diterapkan dalam segala tempat.

Ilmu menurut pandangan Islam adalah tiang, pondasi bagi kebangkitan suatu bangsa, tonggak kebudayaan dan sarana untuk mencapai kemajuan baik bagi individu ataupun kelompok masyarakat. Syariat Islam ditegakkan atas dasar ilmu dan mengajak umatnya agar mempergunakan ilmu pengetahuan, baik berupa sains ataupun teknologi dalam segala urusan, baik urusan dunia ataupun akhirat.

Mu’jizat Rasulullah SAW yang paling agung adalah al-Qur’an yang mulia, yang mengarahkan umat manusia menuntut ilmu, menggunakan akal dan fikiran, menghargai tulis menulis, membaca, penelitian dan mengarahkan umat manusia pada keluhuran akhlak dan budi pekerti.

Menggunakan akal fikiran, belajar, membaca, meneliti dan tulis menulis merupakan jalan dan sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan. Firman Allah SWT : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan manusia (memberi ilmu pada manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. al-Alaq, 1 – 5).

Demikian pentingnya tulis menulis dalam kehidupan umat manusia, sehingga Allah SWT bersumpah dengan pena. Ini menunjukkan pengaruh tulis menulis dalam mengangkat derajat dan martabat manusia, dan membebaskan mereka dari kebodohan dan keterbelakangan. Dengan kemampuan baca tulis, umat manusia akan meraih ilmu pengetahuan yang tinggi dan mengantarkan mereka pada kebudayaan dan peradaban yang luhur. Firman Allah : “...demi pena dan apa yang mereka tulis”. (Q.S. al-Qalam, 1).

Manusia menjadi makhluk yang paling mulia bila dibandingkan dengan makhluk lain karena ia memiliki ilmu. Karena itu manusia yang paling mulia adalah mereka yang paling banyak memiliki ilmu dan yang paling banyak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan komentar ya...