Jumat, 09 Mei 2008

AQIDAH DAN GENERASI PENERUS

Pemantapan aqidah Islamiyah bagi generasi penerus merupakan suatu usaha yang harus digalakkan dengan pola dan rencana yang matang dan baik. Tanpa disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh dan program yang terpola, segala usaha yang dilakukan akan mengalami kegagalan. Karena itu penanaman aqidah Islamiyah dengan sistem yang terencana dan penerapan yang sempurna merupakan salah satu usaha yang harus memperoleh dukungan semua umat Islam. Di dalam al-Qur’an, dijelaskan berbagai usaha yang sungguh-sungguh dengan rencana yang baik yang dilakukan para Nabi dan Rasul untuk menanamkan aqidah Islamiyah. Sebagai contoh, dapat dikemukakan kisah akhir hayat dari Nabi Ya’kub as yang bergelar Israil. “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata pada anak-anaknya : “Apakah yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab : “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. al-Baqarah, 2 : 133).

Ayat di atas mengisyaratkan pada kita betapa pentingnya aqidah Islamiyah kepada generasi penerus. Nabi Ya’kub as, ketika merasakan tanda-tanda kematiannya telah dekat, beliau belum merasa tenang selagi belum mewasiatkan aqidah Islamiyah kepada generasi penerusnya. Kisah Nabi Ya’kub mengenai hal ini juga kisah Nabi lain banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Karena itu dalam ayat berikutnya ditegaskan : “Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang telah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. al-Baqarah, 2 : 134). Setiap orang dan setiap generasi akan memperoleh apa yang mereka usahakan. Bila mereka mengusahakan kebaikan dan kemanfaatan, maka akan memperoleh balasan yang baik. Sebaliknya bila mereka melakukan keburukan dan kejahatan akan dibalas pula dengan keburukan yang setimpal. Setiap diri manusia pasti akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri, tidak dimintai pertanggungan jawab atas usaha dan amal orang lain.

Aqidah Islamiyah yang dikenal dengan aqidah tauhid, yaitu kepercayaan dan keyakinan yang menyatakan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, sebagaimana yang tercantum dalam surat al-Ikhlas, merupakan pondasi yang amat kokoh bagi kehidupan seorang muslim. Aqidah tauhid mengarahkan umat manusia untuk meyakini dengan teguh pada Allah SWT yang mutlak wujud-Nya. Dzat Allah dapat dibuktikan antara lain dengan adanya segala ciptaan-Nya yang berada dalam alam semesta, juga dibenarkan oleh pengalaman bathin dan fitrah manusia. Dijelaskan al-Qur’an : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Wahai Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka”. (Q.S. Ali Imran, 3 : 190 – 191).

Pengalaman batin dan fitrah manusia pasti mengakui wujud Allah SWT, dengan segala sifat-sifat yang Maha Sempurna, terlepas dari segala kekurangan dan kelemahannya. Fitrah seperti ini diisyaratkan dalam al-Qur’an: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan pada mereka : “Siapa yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (Q.S. al-Ankabut, 61). Ayat ini menjelaskan pada kita, bahwa secara naluri yang dimilki oleh semua makhluk yang berakal, pasti akan meyakini wujud Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap diri manusia pasti mengakui dan meyakini kekuasaan Allah SWT. Yang Maha Luas dan Maha Mutlak.

Sebagai manusia muslim, kita harus berbuat kebaikan bagi generasi penerus dengan jalan memantapkan aqidah Islamiyah dan melestarikan amal yang shalih atau amal kebajikan. Dalam suatu kisah dijelaskan ada dialog yang menarik antara generasi tua dengan generasi penerusnya. Ketika seorang anak muda yang amat cerdas dan penuh semangat, menyaksikan seorang kakek tua yang berjalan tertatih-tatih. Dengan sisa tenaganya kakek itu bekerja, menggali lubang dan kemudian menanam beberapa pohon kurma. Pemuda itu bertanya dalam hati, kenapa kakek sedemikian tua menanam pohon kurma yang akan berbuah delapan atau sembilan tahun yang akan datang, sedangkan usianya kemungkinan tidak akan sampai ke sana. Kenapa ia tidak menanam tanaman yang cepat berbuah saja, seperti semangka atau buah melon, agar ia merasakan hasilnya.

Sebagai profil generasi penerus yang memiliki keperdulian yang tinggi terhadap lingkungannya, pemuda itu langsung bertanya kepada kakek yang berusia lanjut tadi, segala apa yang terbetik di dalam hatinya. Ia mewakili generasi muda yang akan menjadi generasi penerus. Kakek berusia lanjut itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang amat berwibawa, dari sorot matanya menampakkan kharisma yang luar biasa. Ia menjawab dengan suatu syair : “Sungguh generasi tua sebelum kami (orang-orang tua kami) telah menanam berbagai tanaman sehingga kami merasakan hasilnya, maka sekarangpun aku pasti akan menanam tanaman-tanaman yang nanti akan dirasakan hasilnya oleh generasi penerusku”.

Kakek itu jelas, menanam tanaman, bukan untuk dirinya, tetapi untuk generasi penerusnya. Demikian salah satu contoh dari menanamkan amal shalih bagi generasi penerus. Berbuat baik untuk generasi penerus dan menerapkan ajaran kebenaran pada mereka merupakan suatu aktivitas yang sangat penting bagi setiap diri manusia yang beriman. Amal shalih akan mengantarkan kita pada kebahagaiaan yang abadi, kebahagiaan lahir dan bathin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan komentar ya...